What I’m Afraid Of

Sudah lama ngga nulis, mungkin jari-jari ini perlu latihan lagi biar ngga kaku. Nah, karena gue sekarang punya banyak banget waktu luang, gue akan mencoba nulis lagi. Maunya sih di bulan Januari ini, gue full nulis tentang gue. Setelah ngeliat berbagai topik di Pinterest, gue akhirnya ngambil satu topik, yaitu What I’m Afraid of.

Ketakutan

Setiap orang pasti punya ketakutan akan sesuatu, ngga peduli seberapa hebatnya orang itu, seberapa kerennya karisma seseorang di depan orang banyak, mereka pasti punya ketakutan masing-masing yang mungkin keliatan banget atau ketutupan sama public identity mereka.

Kalo gue pribadi ada beberapa hal yang bener-bener gue takutin, yaitu:

Mengambil Keputusan

Mengambil keputusan untuk orang banyak.

Mengambil keputusan untuk orang banyak bukanlah hal yang mudah. Sejak kita kecil, waktu kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kita udah diajarin musyawarah untuk mencapai mufakat. Waktu gue masih kecil mah bodo amat ya, gue kaga pernah ikut rapat atau musyawarah begituan, kalau gue ikutpun gue tipe yang pasif gitu, intinya terima-terima aja gitu. I’m not kind of person yang bisa mementingkan diri sendiri kecuali gue udah muak banget atau sedang ada dalam keadaan terdesak.

Entah, itu sikap bodo amat, engga mau repot atau mau cari aman untuk menghindari konflik.

Gue juga mungkin tipe yang penurut sama temen, jadi kalau dulu gue sering dipilih jadi ketua kelas, ketua organisasi or something like that, it just because they think I’m smart, not a wise person. Gue baru sadar sih setelah sebesar sekarang kalo gue tipe orang yang sering dibego-begoin, istilahnya “dipake” buat kepentingan orang lain padahal bukan gue yang mau. (Ini sering terjadi ketika gue harus jadi ketua atau pemimpin, dari gue kecil). It just because gue orangnya mau ngedengerin dari berbagai pihak, gue juga orangnya ngga enakan, susah bilang engga, jadi mereka cari pembelaan ke gue and I have to deal with it as their leader. Inilah kenapa gue ga suka banget kalau harus mengambil keputusan karena gue benci konflik, gue pengen semua tentram, but it’s not possible to make everybody happy.

Mengambil keputusan untuk diri sendiri

We always have to make a choice. Mau makan aja kita harus milih mau makan apa, dimana, sama siapa, bayarnya pake apa. Gimana sama kehidupan? Intinya kita ngga bisa hidup tanpa mengambil keputusan, terlepas dari apakah nanti bakal ada konflik atau engga. Sering banget gue baca, when you make a choice sometime you need to put yourself first. It’s not because of your selfish or egoism, it’s called self respect and self loyalty.

Sejak kecil, kita seringkali dipilihkan keputusan yang kata orang tua kita “terbaik” untuk kita. Orang tua kita mungkin daftarin kita les piano padahal kita sukanya nari, orang tua kita mungkin memilihkan jurusan tata boga padahal kita jarang masuk dapurnya sampai level cuma buat ngambil makan doang.

Realitanya banyak di kehidupan gue, temen-temen gue juga sih kaya banyak yang disuruh jadi PNS, biar aman dan masa tuanya dapet pensiunan. Dianjurin kerja di bank, bandara, hotel atau villa besar, semata-mata biar kalau orangtuanya ditanya sama temennya itu bisa dibanggain.

“Anaknya kerja dimana sekarang?”

“Di hotel A.”

“Wuih hebat ya, kan itu hotel besar?”

Iya hebat. Udah. Hanya sebatas itu lalu orang lain ngga akan pernah peduli apakah kita bahagia kerja disana? Apakah kita dibayar dengan layak? Apakah kita diberi libur yang cukup? Because from what I know kerja di hotel itu susahnya minta libur sangatlah sadis. Gue bukan bermaksud merendahkan pekerjaan lain yang gue mention disini karena gue tahu setiap pekerjaan pasti ada baik buruknya.

Gue juga pernah ketemu seorang bapak-bapak di Gramedia. Waktu itu gue lagi nyari buku gitu terus ada bapak-bapak lagi baca buku ga jauh dari gue dan beberapa menit kemudian ada seorang bapak-bapak lainnya yang menghampiri, ternyata mereka teman lama.

Mereka ngobrol ngomongin anak mereka masing-masing. Dari gayanya gue tau ini salah satu bapak-bapak ini tipe yang gengsian, gue bisa lihat dari mimik mukanya ketika beliau menceritakan anaknya yang dikuliahin di universitas cukup ternama di Bali, dulunya tes segala macem, bayarnya lumayan mahal, bapak yang satunya cuma manggut-manggut dan bilang “Wah hebat yaa kuliah disana” tapi ngga berapa lama kemudian, setelah berapi-api bapak itu  mengeluh karena anaknya ngga serius kuliah, skripsinya juga ngga kelar-kelar.

Oh please, did he ever ask his son, “Are you happy about this choice?”, “How was your school?”

Menyinggung Perasaan Orang

Setelah mengambil keputusan, ketakutan gue yang kedua adalah menyinggung perasaan orang. Gue orangnya ngga enakan sama orang. Susah bilang enggak, dan kadang kalau gue ditanya, “kok mau sih?” gue dengan gampangnya bilang “yaudahlah mau gimana”, seakan-akan gue ngga punya pilihan, padahal gue bisa mengubah keadaan, gue bisa menyampaikan hal-hal yang ngga gue setujui, tapi karena gue ngga enakan dan takut bikin orang lain terluka gue jadi kesannya nerima keadaan aja walau sering dalam hati engga terima. Tapi kalau dipikir-pikir itu ngerugiin diri sendiri banget. Mungkin karena saking seringnya  gue diam daripada nyampein yang ngga gue setujui, jadi sekalinya gue kesel, gue berontak, mungkin kata-kata gue bakal pedes sepedes maicih level tertinggi.

Menyesal

Masih berkaitan dengan mengambil keputusan dan menyinggung perasaan, menyesal akan menjadi hal terakhir yang datang setelah keputusan yang diambil tadi salah atau setelah gue ngomong sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain. Gue orangnya ngga bisa marah lama-lama, kalau gue abis marah-marah bentarnya lagi paling gue nyesel karena intinya gue ngga suka sama konflik. Rasa menyesal itu ngga enak banget menurut gue, but we have to accept it karena setiap keputusan pasti ada baik buruknya. Penyesalan terbesar gue untuk saat ini adalah gue sering ngga percaya sama diri sendiri, gue ngga yakin gue bisa, gue mampu padahal ya mungkin usahanya aja yang belum maksimal.

Konflik

I hate conflict very much. Gue tipe yang lebih suka memelihara kedamaian disekitar gue. Dimanapun gue berada, gue bukan tipe yang bisa membaur sama semua kalangan. Gue punya banyak temen, tapi gue ngga deket sama semuanya, I don’t even care kalau dibilang pilih-pilih temen atau ngga bisa bertemen. Gue lebih memilih memelihara pertemanan yang bener-bener worth to keep dan memastikan ngga ada konflik didalamnya.

Kesendirian

Menurut tes MBTI gue orangnya introvert, makanya kalau gue ngga nyaman sama orang-orang sekitar gue lebih milih buat sendirian. Gue juga fine-fine aja kalau harus ke mall sendiri, pergi ke toko buku sendirian, makan sendirian, ke salon sendiri atau apapun yang orang-orang anggap aneh kalau pergi sendirian. Gue belum pernah sih ngilang yang bener-bener sendirian karena pada dasarnya gue manja hahaha, but it’s worth to try kalau kalian bener-bener lagi mumet.

Sendiri yang gue takutin disini adalah ketika gue ngga ada temen buat berbagi, ngga ada orang yang care sama gue dibelakang gue, ketika gue down ngga ada yang nenangin gue. Jadi gue cukup double standart untuk hal ini, seakan gue bilang, “biarin gue sendiri, tapi tetep care ya dari jauh”. Bingung? Ya, gue juga.

Perpisahan atau Perpecahan

As I told you before, gue orangnya ngga suka konflik apalagi yang bakal menyebabkan perpisahan atau perpecahan. Konflik di keluarga, pergaulan. Sedih aja gitu liatnya kalau kemaren-kemaren kita deket banget tapi harus berantem. Kadang gue miris aja sih liatnya orang yang berantem gara-gara warisan, gara-gara duit, tapi itulah realitanya. Tapi ada satu hal yang gue pelajari dari perpisahan, yaitu kita harus bisa apa-apa sendiri.

Nyokap gue punya temen lama, beliau ini udah janda. Dulunya beliau hidup ya seperti istri-istri pada umumnya, tapi karena suatu hal beliau harus pisah sama suaminya. Berat? Pastilah. Apalagi kalau udah punya anak. Mau ngga mau dia harus bekerja keras sendiri, dulunya yang kemana-mana dianter suaminya sekarang mesti bisa naik motor sendiri. That’s why I told myself: Wanita harus bisa mandiri. Bisa melakukan apapun sendiri, bisa mencari uang, bisa mengendarai sepeda motor, mengendarai mobil, bisa beradaptasi dalam keadaan apapun dan pintar. Kalau dapet suami yang sayang banget sama kalian, udah kaya dari orok, ya anggap itu bonus, tapi kalau engga, seenggaknya lu gak harus ngebebanin minta duit buat beli lipstik YSL sama suami kalian. Yah intinya adalah you have to depend on yourself, not others karena kita ngga pernah tau kehidupan selanjutnya kaya gimana.

Itulah beberapa hal yang gue takutin, sebisa mungkin gue hindari dalam hidup. Hal-hal yang mungkin jadi kekurangan gue juga sebagai manusia. Tapi kalau dipikir-pikir hidup kita ngga akan seru tanpa masalah, kita pribadi juga ngga akan berkembang dengan kehidupan yang begitu-begitu aja. Everything is temporary, termasuk rasa takut.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *