We Have More than We Need

Saya sedang ada di masa-masa menikmati hari-hari tanpa pekerjaan tetap di usia produktif.
Bermalas-malasan? Tidak juga, saya ingin mengembangkan diri lebih tepatnya selagi muda. Saya ingin tahu seberapa jauh kemampuan saya, tapi bukan itu pointnya.
Oke, kita skip saja bagian pekerjaan, nanti saya akan bahas lebih lanjut lain kali.

Kali ini saya akan bercerita mengenai “Ketertarikan Semesta”
Kalau kalian pernah membaca buku The Secret atau barangkali membaca quote-quote yang kurang lebih isinya
“When you want something, all the universe conspires to help you achieve it – Paulo Coelho”
Ya, saya sedang percaya akan keajaiban itu. It’s like magic.
Di keadaan saya yang tanpa pekerjaan tetap dan dalam masa ingin mencoba ini itu, belajar banyak hal dengan otodidak, saya yakin saya akan menghabiskan banyak uang jadi saya harus bisa mengatur keuangan dengan sebaik mungkin.
Namun, adakalanya suatu hari saya sangat suntuk dan memutuskan untuk bepergian sendiri. Ini tentu berbahaya, karena jika saya bepergian dengan seseorang, pasti ada yang mengingatkan saya untuk sekedar berhemat, tapi kali ini saya ingin pergi sendiri.
Saya pergi ke sebuah mall yang lengkap dengan toko bukunya, lama berdiam diri disana membaca satu per satu judul dan sedikit isi buku yang seakan berkata, “baca aku”.
Berselang beberapa saat, saya menemukan sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidiying Up yang ditulis Marie Kondo.
Sebenarnya saya sudah tahu tentang buku ini sejak lama tapi entah kenapa saya baru ingin beli sekarang. Waktu itu saya belum percaya bagaimana bisa seni berbenah atau beres-beres bisa mengubah mindset apalagi mengubah hidup. Entah kenapa hati saya tertuju pada buku beres-beres padahal di rumah saya anaknya ngga suka beres-beres kecuali beresin meja make up. Buku-buku lainnya juga tampak lebih berguna dari buku beres-beres, tapi entah kenapa saya memilih buku ini. Mungkin inilah yang bernama “Something happen for a reason” jadi saya beli saja buku itu.
Keajaiban selanjutnya adalah, ketika di kasir saya agak galau mau bayar cash, pakai debit atau kartu kredit. Tapi saya ngga bisa lama-lama berdiam diri di depan kasir karena banyak antrian, entah kenapa saya tiba-tiba mengeluarkan kartu kredit padahal saya hampir ngga pernah pakai kartu kredit kalau belanja langsung, palingan saya pakai belanja online, beli e-book atau sejenisnya yang memang perlu kartu kredit untuk membayar.
“Something happen for a reason” lagi, tiba-tiba kata mba-mba kasirnya saya dapet reward potongan harga jadi harga bukunya cuma belasan ribu rupiah gitu, saya lupa tepatnya berapa, saya hanya kaget dan otomatis bilang wow dalam hati.
Sampai di rumah, saya ngga langsung baca bukunya, seperti biasa saya anaknya suka ngoleksi, saya malah buka Instagramnya si penulis, yaitu mba Marie Kondo. Saya sudah lama sih follow mba Marie, tapi tetap aja amazing kenapa ada pekerjaan “Konsultan Beres-Beres” di dunia ini? Kita mungkin aja berpikir membuka lowongan jasa penyalur pembantu untuk beres-beres, penyedia Go Clean, tukang bersihin AC, sofa, tempat tidur atau sejenisnya tapi konsultan beres-beres? Kalian juga harus tahu, kalau mau jadi kliennya mba Marie ini bisa masuk waiting list sekitar tiga bulan. Come on! Baru sampe disana saja buku ini sudah mengubah mindset kita, ya. Kita bisa menciptakan segala macam pekerjaan, ngga harus pasif menunggu untuk dapat pekerjaan. See?

Akhirnya saya baca buku The Life-Changing Magic of Tidiying Up sedikit demi sedikit, lembar demi lembar. Saya juga suka membaca buku sebelum tidur, tapi sepertinya membaca buku ini sebelum tidur ngga baik karena saya jadi langsung praktek. Ya! Saya langsung mengeksekusi lemari pakaian jam satu dini hari.
Di dalam buku ini, secara garis besarnya saya akan menjelaskan bahwa sebagian besar orang tidak bisa menjaga kerapian rumah tidak peduli seberapa sering rumahnya dibereskan karena kita tidak pernah mempelajari secara serius, semua dilakukan secara otodidak dan turun temurun dari orangtua. Di buku ini juga diajarkan bagaimana metode yang tepat untuk beres-beres, secara singkat beres-beres dimulai dengan mengumpulkan semua barang yang sejenis di depan kita, misalnya pakaian. Kita juga diajarkan bagaimana melipat pakaian dengan baik dan benar, nah sebelum dilipat dan disimpan di lemari, pakaian-pakaian itu harus kita sortir. Kalian sadar ngga sih kalau seringkali kita punya pakaian yang barangkali tidak kita sadari keberadaannya? Misalnya pernah beli baju kaos tiga biji yang sama persis tapi beda warna hanya karena waktu itu ada flash sale, tapi setelah kita miliki, mungkin hanya satu baju yang sering kita pakai karena warna lainnya kurang cocok di kita. Nah, itulah sebabnya di buku The Life-Changing Magic of Tidiying Up kita dianjurkan untuk mengumpulkan semua pakaian kita di depan kita dan menyentuhnya satu persatu, membayangkan apakah kita bahagia bila menggunakannya atau tidak, jangan menyimpan pakaian dengan patokan sayang karena harganya mahal, sayang karena ini hadiah, sayang karena belinya diluar negeri, sayang karena limited edition, sayang karena udah lama pacaran *eh (?) dan sebagainya. Simpanlah yang benar-benar membuat kalian bahagia saja, sisanya? Kalian boleh jual kalau masih sayang dan layak pakai, boleh juga disumbangkan. Sampai di tahap ini, buku ini telah menyadarkan saya bahwa segala sesuatu yang tampaknya runyam di depan mata saya, ternyata dibutuhkan oleh orang lain. Misalnya pakaian yang menggunung di lemari sampai saya kesusahan kalau mencari baju, ternyata kalau disumbangkan akan lebih bermanfaat bagi orang lain. Saya seringkali menyortir pakaian dan menyumbangkan yang sudah lama tak terpakai ke kampung halaman atau ke saudara yang sering ke panti asuhan, tapi baru kali ini saya benar-benar menyimpan pakaian-pakaian yang hanya membuat saya merasa bahagia, biasanya saya menyortir hanya sampai pakaian-pakaian yang sudah jarang dipakai. I feel so blessed. It’s spread the love and spark the joy in my heart. I can’t believe ditengah-tengah banyaknya keluhan yang saya ucapkan, ternyata I have more than I need.

Sampai di tahap ini juga buku The Life-Changing Magic of Tidiying Up telah mengajarkan saya tentang keikhlasan dan belajar berdamai dengan masa lalu. Misalnya ada beberapa pakaian yang saya beli karena lucu, ya! Wanita seringkali berbelanja karena lucu. Saya hampir tidak pernah menggunakan baju-baju itu tapi saya tetap menyimpannya karena sayang. Setelah membaca buku The Life-Changing Magic of Tidiying Up dan memahami lebih sungguh-sungguh, saya menyadari bahwa tugas dari baju-baju itu telah usai, mereka layak bepergian. Saya hanya bahagia ketika baru memilikinya, bahkan saking sayangnya saya tak pernah menggunakannya sedangkan fungsi sebuah pakaian adalah untuk digunakan, jadi lebih baik saya mengikhlaskannya toh juga saya tidak merasa bahagia bahkan tidak pede ketika disuruh menggunakannya. Saya harus berdamai dengan kebahagiaan saya yang telah lalu ketika membeli baju-baju lucu itu.

Untuk saat ini saya baru sampai di tahap membereskan pakaian dan make up. Jika kalian follow saya di Instagram tentu kalian tahu jika beberapa hari yang lalu saya sempat mengadakan preloved barang-barang make up saya dan sisanya saya bagikan secara gratis karena saya sadar saya sangat jarang menggunakan mereka.
How I feel? Yes, again. I feel much better than before. I have more than I need, bonusnya lagi beberapa barang saya terjual sangat cepat tanpa ilmu marketing jadi saya mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda, jadi saya ingin membagikan kebahagiaan kecil saya pada kalian.

Sadarkah kalian apa yang terjadi apabila saat itu saya tidak bepergian sendiri? Barangkali saya tidak ke toko buku bahkan membeli buku tentang beres-beres. Jika saya tidak membeli dan membaca buku itu mungkin tulisan ini juga tidak akan pernah ada. See? It’s magic. Jika kalian sampai ke tahap membaca tulisan ini, percayalah semesta memiliki misi hingga menyuruh kalian ke halaman web ini.
Once again, Something happens for a reason.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *