Accept Yourself

Kapan terakhir kalinya kalian menggerutu seakan dunia tak berpihak pada kalian? Saya mungkin cukup sering, terutama dalam beberapa bulan terakhir. Orang-orang diluaran sana mungkin melihat hidup saya baik-baik saja begitu juga saya melihat mereka. We don’t know if we have the same problems maybe?
Kurang piknik? Riuh sama hijaunya rumput tetangga? Kurang bersyukur? Bisa jadi, tapi saya bukan termasuk orang yang kurang piknik, saya malah kelebihan piknik, kalau untuk urusan iri atau suka ngurusin kehidupan orang lain, apalagi kurang bersyukur, jangan sampai.

Seringkali saya bertanya dalam diri, kamu mau apa? Kamu mau kemana? Kamu mau bersama siapa saja dalam hidupmu?
Hidup memang pilihan, namun seringkali kita tak sebebas itu dalam memilih dan konsekuensi serta tanggung jawab selalu ada dibalik kebebasan memilih suatu hal.
Semakin saya memikirkan, semakin lelahlah otak saya sehingga pikiran-pikiran negatif bermunculan dan ini cukup melelahkan lebih dari apapun. Saya mencari dan semakin mencari apa yang salah dari diri saya. Semakin saya mencari, semakin saya denial dan pura-pura yakin bahwa hidup saya baik-baik saja.
Satu hal yang saya sadari, ternyata saya tidak cukup menerima diri saya sendiri dan ternyata hal inilah yang memberatkan hidup saya belakangan ini. Saya seringkali ingin lebih dalam banyak hal padahal kita hanya butuh cukup.

Saya teringat beberapa tahun lalu, ketika dokter mendiagnosa saya memiliki penyakit pada tulang belakang saya. Ya saya skoliosis.
Saya cukup depresi, saya sempat menangis berhari-hari terbayang bahwa kehidupan saya akan sangat kelam, sehabis pulang sekolah saya hanya menghabiskan waktu di kamar, browsing di internet dan saya semakin sedih. Saya membayangkan operasi, saya membayangkan kematian, dan yang paling menyedihkan saya sangat takut tidak diterima oleh orang-orang terdekat.
Bodohnya saat itu saya malahan menyuruh pacar saya untuk menjauhi saya karena saya takut nantinya ia akan terpaksa bersama saya. Saya bahkan memikirkan bagaimana saya akan merepotkan teman sebangku saya di sekolah jika nanti saya menggunakan baju bertulang besi. Apakah mereka tetap mau menjadi teman saya?
Berat rasanya ketika ada orang lain bertanya, “Itu badannya kenapa?” dan berat rasanya menanggapi tatapan orang-orang yang melihat saya seperti orang cacat, melihat saya berbeda.
Kejadiannya cukup lama, syukurnya saya tidak pernah kepikiran untuk bunuh diri karena saya belum yakin sampai sekarang bahwa di alam sana ada Surga atau Neraka, jadi lebih baik sakit tapi bisa makan pizza di dunia. Sampai akhirnya saya membaca sebuah artikel dari seorang dokter yang mengatakan pada pasien skoliosisnya, “Kamu ngga usah mikirin sedihnya, operasinya, terapinya, jalani saja hidupmu seperti biasa, kalau ngga sakit-sakit banget ngga usah ke dokter, ngga usah ke rumah sakit, main aja sama temen. Kamu ngga cacat, itu hanya kelainan.”
Kalimatnya kurang lebih seperti itu dan ternyata itu mengubah pandangan hidup saya.
Saya berhenti membaca hal-hal yang menakutkan dari skoliosis, saya tidak menindaklanjuti pemeriksaan ke dokter semenjak kurva kemiringan tulang saya membaik, saya berhenti memikirkannya dan akhirnya saya baik-baik saja. Apabila ada orang bertanyapun saya akan dengan enteng menjawab bahwa saya memang skoliosis, saya tidak malu bahkan saya akan senang apabila dapat berbagi cerita.

Pada saat itu, saya lebih takut tidak diterima orang lain, padahal akan lebih baik bila saya membesarkan hati, mengikhlaskan dan menerima diri saya sendiri apa adanya.
Guess what?
Saya masih hidup. I get better when I accept myself as I am.

Menerima diri sendiri bukan berarti menerima benar-benar apa adanya tanpa ada perkembangan dan terus memelihara sifat buruk.
Menerima apa adanya berarti mengerti bahwa kita hanyalah manusia yang memiliki kekurangan. Seringkali kita lebih insecure pada pandangan orang lain terhadap kita, padahal bila ditelaah lebih dekat lagi, sebenarnya kitalah yang lebih insecure daripada orang lain.
It’s okay if you are not perfect
it’s okay if you are fail
it’s okay if you don’t get your goals easily,
it’s okay to feel sad,
it’s okay to have different opinion,
It’s okay if they have but you don’t
it’s okay to accept yourself.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *